Recent Tweets @
Trying to be a man is a waste of a woman.

Many of the writers I meet these days want to make that connection with millions of strangers. They want to be stars. To do that, I imagine, they would lose some of the privacy of writing. They’d need a microphone rather than a notebook. A writer who becomes a star, I think, loses a little or a lot of their equilibrium and the stability their notebooks once give them. They’re too concerned with divining what their massive public desires of them. They become genies in lamps. They aren’t writing for themselves anymore. How can they love what they do? Everything becomes deadline and it has to be what people expect. 

Magrs, Paul. “Notebooks.” The Creative Writing Coursebook. Ed. Julia Bell and Paul Magrs. London: Macmillan, 2001. 11. Print.

Ketika saya sekolah dasar di Palembang, jika ada teman yang manja sedikit dengan guru ia akan dicap “enyek-enyek”. Kata ini sepertinya adalah kata khas dari daerah tersebut, sehingga jika saya ucapkan di Jakarta—misalnya—orang tidak akan mengerti.

Tidaklah mudah mengidentifikasi perbedaan “manja” dan “enyek-enyek” karena manja kadang diasosiasikan kepada sikap yang kira-kira seperti ini: tidak mau susah dan repot, tapi juga bisa dialamatkan pada sikap yang seperti ini: lemah lembut dan menggemaskan dan hal-hal unyu lainnya.

Tapi rasanya perlu perluasan pengertian terhadap enyek-enyek ini.

Memiliki tujuan—jangka pendek atau panjang—tentu butuh komitmen luar biasa. Komitmen itu kadang harus menyita waktu pribadi hingga pikiran seperti kapan-punya-waktu-untuk-mengurus-diri kerap kali bergentayangan. Dan, ketika suatu saat kita lelah, ingatlah bahwa itu merupakan “present tense” dan harus segera diatasi agar ia segera menjadi “past tense” demi “future tense” yang kita tuju. Kalau sering-sering mengingat itu, pastilah kita mengerti bahwa  membenarkan setiap kejadian (pribadi) tidak mengenakkan sebagai alasan untuk berkata kasar kepada orang lain atau tidak bertanggungjawab pada tugas kuliah atau kantor, misalnya, bukanlah hal yang baik.

Sikap yang sedikit-sedikit mencari alasan pembenaran itu sama saja mengizinkan diri sendiri menindas diri sendiri, melemahkan diri sendiri. Itulah sikap enyek-enyek yang saya maksud. Bayangkan jika saya yang rhinitis alergi setiap pagi dan malam ini bersikap enyek-enyek, mungkin setiap pagi saya akan merasa malas untuk bekerja atau setiap malam saya akan malas mandi. Good thing? Of course no! Lalu bagaimana? Ya, dilawan. Pura-pura tidak tahu dan disiplin saja dengan diri sendiri. Toh, sebentar lagi bersin-bersinnya berhenti. Bukan malah memanjakan diri sendiri sampai tidak ingin berbuat apa-apa.

Dan, pertanyakanlah, apa mungkin seorang Aung San Suu Kyi dapat sedemikian tegarnya ‘meninggalkan’ suami dan anak-anaknya demi cita-cita demokrasi Myanmar yang diwariskan ayahnya jika ia bersikap enyek-enyek?

Apa mungkin –tidak usah jauh-jauh—nilai-nilai disiplin yang coba ditanam orang tua kita sejak kecil akan berhasil jika dulu ia harus mengalah setiap kali kita mengeluh dan bersikap enyek-enyek?

Jelaslah bahwa kebiasaan—baik atau buruk—itu ditentukan dari diri sendiri. Seperti kata Goenawan Mohamad di tulisan yang berjudul “Marxisme Tidak Lahir di British Museum” bahwa untuk berkuasa hanya diperlukan sebuah tindakan, sedang untuk menjadi baik diperlukan kebiasaan – proses yang terus menerus. Jika melemahkan diri sendiri terus menerus, jadilah kita lemah. Jika menguatkan diri sendiri terus menerus, jadilah kita kuat.

Mungkin saja kedisiplinan dapat dibebasartikan sebagai kaku dan tidak fleksibel. Namun, ketika suatu saat kita dituntut atau tertuntut untuk memiliki tujuan-tujuan, jelaslah bahwa disiplin itu nomor satu dan enyek-enyek itu nomor terakhir dalam daftar sikap yang harus dimiliki. Jika ada yang berkata bahwa wanita yang enyek-enyek itu lemah lembut dan menggemaskan, tunggulah hingga yang dianggap lemah lembut dan menggemaskan itu harus ‘bertarung’ di kehidupan sebenarnya.

Maka, wanita, janganlah enyek-enyek apapun yang terjadi, karena di sebuah supermarket, enyek-enyek harganya hanya dua puluh ribu rupiah, dan tujuan hidup kita jauh lebih mahal dari itu. 

 

 

And remember when He made you successors after the ‘Aad and settled you in the land, [and] you take for yourselves palaces from its plains and carve from the mountains, homes. Then remember the favors of Allah and do not commit abuse on the earth, spreading corruption.
Al-A’raf: 74