Recent Tweets @

Jumat sore adalah jadwal komunitas panahan berkegiatan di Pendopo Royal Ambarrukmo, Yogyakarta.

"High" by Lighthouse Family

One of my favorite songs that makes me more and more an old soul.

Be like a bamboo. It bends, but does not break; it’s flexible, yet firmly rooted.
Japanese Proverb

Saya sama sekali tidak mengira bahwa minggu kemarin saya akan kembali mengunjungi Yogya. Semuanya berawal dari pertemuan awal minggu di kantor ketika ibu bos mendadak meminta saya menggantikan beliau menghadiri kongres Asia Pacific Space Designers Alliance (APSDA) di sana dari Kamis (17/9) sampai Sabtu (20/9).

Tentu tidak masalah. Hanya saya sedikit menyayangkan hari Sabtu saya yang seharusnya saya pakai untuk menghadiri kelas persiapan IELTS. Well, mengeluh tiada guna—tentu saja. Setidaknya saya mendapatkan pengganti kekecewaan atas hangusnya akhir pekan saya.

***

Yogyakarta, lima tahun yang lalu. Saya dan teman-teman satu angkatan di kuliah berpelesir dengan dalih “Kuliah Kerja Lapangan”. Menyeberangi Selat Sunda hingga Selat Bali dalam waktu sepuluh hari dengan menaiki bus. Saat itu, tidak banyak hari yang dilewatkan di Yogya. Kami sampai di Yogya sore menjelang malam. Mungkin karena lelah, saya dan beberapa teman hanya melewatkan malam menonton film entah-apa-judulnya—saya tertidur selama di studio saking tidak menariknya film itu—di sebuah mal. Yogya, lima tahun yang lalu, sama sekali tidak meninggalkan kesan bagi saya…

… hingga kemarin.

***

Kongres berlangsung lancar. Bertemu dan bertegur sapa dengan petinggi-petinggi desainer/arsitek interior se-Asia Pasifik adalah kesempatan yang tidak akan terjadi setiap hari. Hanya saja, saya masih merasa hampa. Entah mengapa.

Hari itu, 20 September, adalah hari terakhir kongres. Beberapa dari pembicara adalah Yori Antar—arsitek yang sangat memperhatikan keberlangsungan arsitektur-arsitektur Nusantara—dan Jay Subyakto—scenographer, alumni arsitektur. Seperti biasa, presentasi Yori selalu menginspirasi dan mengguncang jiwa nasionalisme. Begitu juga Jay.

“Kita tuh aneh ya. Kalau salah nyebutin “Ratenggaro” (nama desa di Nusa Tenggara Timur) biasa aja, tapi kalau salah mengucapkan kalimat Bahasa Inggris, malunya minta ampun.” pungkas Jay. Iya juga ya, batin saya dalam hati. “Anehnya lagi kalau kita berkarya, terus karya kita diakui di luar negeri, kita baru bisa diapresiasi di negeri sendiri. Ironis.” katanya lagi.

Dipikir lagi, bener juga. Entah mengapa hampir semua dari kita begitu. Mengelu-elukan luar negeri, pendidikannya, budayanya, karyanya, suasananya, bahasanya, semuanya. Padahal, kalau mau melihat lagi, Indonesia itu sangat kaya dan sangat mungkin kita elu-elukan. Karya kreasi anak negeri sangat mampu disandingkan dengan mereka-mereka dari Barat sana. Sayang beribu sayang, apresiasi masyarakat ke dunia kreatif dan seni masih dinomorduakan, masih dianaktirikan, dianggap tidak mampu ‘menghasilkan’, profesi dan hobi kere yang kerap dicibir “buat apa sih?”. Pemerintah pun belum terlalu menghargai dan mewadahi walau mungkin ada beberapa yang sudah. 

“Saya juga begitu, minat saya enggak ada yang ‘menghasilkan’.” kata seorang kenalan saat kami makan malam dengan pemandangan Prambanan yang berdiri gagah namun anggun itu. Saya mengangguk dan menyetujui bahwa saya juga mengalami hal yang sama. Kami mengobrol sepanjang malam tentang media, menulis kreatif dan studi Asia Tenggara tentang warisan budaya—ia lulusan Goldsmiths University of London dan Leiden University. Saya juga bercerita tentang rencana saya studi di Inggris tahun depan, dan dia membagi ceritanya selama kuliah di London. Seorang kenalan yang lain juga bercerita tentang studi desain produk dan interiornya di Milan, dan ketertarikannya dengan menulis kreatif.

Mengobrol satu malam dengan mereka yang masih sangat muda dan pintar itu bagai mendapat guyuran air di tengah padang pasir. Kami berbagi minat yang sama, antusiasme yang sama dan kegelisahan yang sama. Ternyata, jika selama ini saya mengira bahwa saya merasa termarjinalkan karena berasal dari lingkungan yang kurang mengapresiasi kerja kreatif, ternyata mereka juga merasa begitu—kurang lebih—dalam konteks negara, bukan mengkotak-kotakkan wilayah seperti yang saya pikirkan selama ini.

Keesokan harinya, saya membagi kegelisahan itu kembali kepada sahabat lama berjam-jam, dari kamar kosnya di Kaliurang hingga ke sepanjang Malioboro. Sama seperti kedua teman baru saya, sahabat saya ini juga memiliki kegelisahan yang sama. Sampai akhirnya, “Din, udahlah. Terusin mimpi kamu sesuai yang kamu rencanain. Aku bisa rasain besarnya rencana kamu itu dari cara kamu ngomong.” Saya memeluknya erat.

Taksi yang saya tumpangi membelah jalanan Yogyakarta menuju bandara, kembali ke ibukota. Hampa yang sempat menyelimuti hati di hari-hari awal di Yogya akhirnya terisi. Taksi saya melewati sebuah billboard bertuliskan, “Jogja Berhati Nyaman”.  Hah, mungkin memang bukan kotanya yang membuat hati nyaman—kota ini sama panasnya dengan Jakarta, tapi keajaiban-keajaiban tak terduga dan penuh rahasia yang terjadi di dalamnya, seperti bertemu dengan orang-orang luar biasa itu. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasa tidak sendirian. Saya merasa jauh lebih yakin dan berani dari sebelumnya. Matur nuwun, Jogja!

image

image

Trying to be a man is a waste of a woman.