Recent Tweets @

Jika kebebasan berbicara itu adalah demokrasi, maka saya sepakat dengan Goenawan Mohamad bahwa, “demokrasi buat anak-anak muda selama Revolusi Kebudayaan itu cukup membuktikan: kehausan untuk ikut bersuara dari bawah adalah kehausan yang tak habis-habisnya.”

Kebebasan berbicara yang —sayangnya— sepotong-sepotong, setengah-setengah, dengan karakter terbatas, tak jelas mana ujung mana pangkal, mana opini sendiri mana kutipan. Kebebasan berbicara yang berbatas abu-abu antara debat intelek dan sentimen pribadi.

Pemuda, sudah biasa dalam sejarah, memang semangat dan tenaga yang gegap gempita. Tapi juga biasa dalam sejarah, bahwa mereka yang bisa bertempur, jarang bisa jadi pemenang. Dan pemuda; yang bisa jadi pejuang, jarang bisa jadi penakluk. Kalaupun kita bisa bicara tentang mereka sebagai satu kesatuan, dalam kenyataannya pemuda hanya salah satu aktor di atas pentas. Pada analisa terakhir mereka pun juga sambungan bagian lain di masyarakat.
Goenawan Mohamad
dalam Untuk Generasi Wu Ch’u-an-p’in (Catatan Pinggir 1, 1982)

From now on, I am starting to share the result of fun quizzes I took lately. In order to remember how internet think I am :)) 

Source: http://quizony.com

Ada bangsa-bangsa yang “berkebudayaan intens” dan ada yang bukan. Ada bangsa yang sukses dengan cepat di bidang ekonomi lantaran tahan merangkak dari bawah secara habis-habisan, ada bangsa yang senyum-senyum, nyanyi-nyanyi, dan akhirnya gelagapan.
Lee Kuan Yew
diceritakan kembali oleh Goenawan Mohamad dalam “Di Singapura” (Catatan Pinggir, 1982)
Since the day of Galileo, this Church has tried to slow the relentless march of progress, sometimes with misguided means. But science and religion are not enemies. There are simply some things that science is too young to understand. So the Church pleads, “Stop. Slow down. Think. Wait.” And for this they call us backward. But who is more ignorant, the man who cannot define lightning or the man who does not respect its natural awesome power?

Camerlengo Patrick McKenna

on Angels and Demons (2009)

people who did something contradictory with his/her own words is not worth to gain our trust.
[adinwardhani]
Kontinyuitas itu juga terlihat pada para petani Bali, yang pandai membangun rumah tahan gempa — karena mereka, berbeda dengan para arsitek yang baru lulus, kenal betul akan bumi mereka. Berabad-abad.
Goenawan Mohamad
dalam Kontinyuitas (Catatan Pinggir 1, 1982)