adinwardhani

no one can edit my writings in my weblog because i am the author.
Recent Tweets @adinwardhani
i like
following

Jalur sepeda di Bintaro Sektor 2. Dandee mejeng dulu sebelum ke pasar, hehehe.

Suatu hari saya pulang motret dengan menumpang taksi karena sedang flu berat dan lemas sekali jika harus naik angkutan umum. Sesampai di tujuan, saya meminta struk dari bapak supir taksi berwarna biru yang katanya paling terpercaya se-Indonesia itu. Memang, argonya hanya lima belas ribu rupiah, tapi saya tetap meminta struk karena harus saya serahkan ke bagian administrasi di kantor. 

“Pak, saya minta struknya.” kata saya setelah membayar. “Eh? Kenapa harus pakai struk?” tanya bapak supir. Lah, saya heran, kok bapak ini malah nanya? “Pertama, karena taksi bapak bisa cetak struk. Kedua, saya butuh itu untuk diserahin ke administrasi kantor.” tegas saya. “Yaelah Mbak, ga usah pakai struk segala. Bilang aja ke kantornya, naik ojek, gitu.” kata si bapak keukeh. Wah, ini sih keterlaluan. “Saya ini naik taksi untuk urusan kantor. Kantor harus tahu. Minta struknya!” geram saya. Saya sudah gemas sekali dengan si bapak. Akhirnya, si bapak yang mungkin takut karena suara saya meninggi (dan mungkin juga takut saya lemparin tisu bekas ingus-ingus)  jadi mencetak struk yang saya minta. Sambil menyerahkan struk tersebut, si bapak malah berkata dengan nada menyebalkan, “Mbak, jujur itu udah ketinggalan jaman. Ga usah jujur-jujur banget jadi orang.” Saya tarik struk itu dari tangan si bapak, keluar taksi dan membanting pintu sekuat yang saya bisa, malem-malem. Bodo amat! 

Memang, saya pernah juga berbohong. Pernah juga berbuat jelek. Tapi, sampai sekarang, saya masih sesak tiap kali inget omongan si bapak. “Jujur itu udah ketinggalan zaman.” Ini seakan ada lingkaran yang saya tak tahu ujung pangkalnya. Kita yang di bawah merasa tak perlu berbuat jujur karena seringnya dikhianati, dibohongi dan dipecundangi oleh orang-orang yang di atas ATAU kita-kita yang sedari bawah sudah tak berlaku jujur ini yang akhirnya terbawa tabiatnya saat sudah berada di atas? Saya tidak mengerti. 

Memang susah untuk berlaku lurus di sini. Mungkin si bapak yang benar, jujur itu ketinggalan jaman. Bohong aja masih sering ketinggalan, apalagi jujur. Jangankan meniti sirat al mustaqeem, baru niat saja udah dibacain sadaqallahul’adzim oleh syaitonnirrojim

Meet up with old Canada friends at Cilandak Town Square today. It’s been two years since the last time I saw them. Dyresti (center) was in hurry to go back to work after lunch (yes, she works on Sunday!) and Vita (right) who currently take her master in Houston is in Jakarta for several days due to her summer holiday. It is really nice to have them today, although we only had 2-3 hours but it feels like forever. We don’t really need to meet very often because we already know each other that we are busy chasing our each dreams. “Come on, move on, get a life! We are not live in the past.” is the main topic today. I can’t believe, we are all grown up going through our each progress’! LOL. Thank you for the conversation, girls! 

Photo courtesy: Vita Busyra

Awal bulan tadi, saya berakhir pekan di Bandung. Bukan untuk hepi-hepi, tapi kerja. Judulnya: reiki ke beberapa proyek potensial untuk diliput di publikasi berikutnya.

Salah satu proyek yang kami kunjungi adalah rumah pasangan arsitek muda di daerah Dago. Rumah ini berada di satu lahan dengan studio arsitekturnya. Ada halaman belakang juga yang sering digunakan untuk acara komunitas atau presentasi sederhana. Meski dua lantai, ukuran rumah ini mencengangkan: 4.5 x 8 meter, dengan tinggi floor-to-floor dua meter saja! Ketika diajak berkeliling rumahnya (ya ga bisa dikatakan berkeliling juga karena mungil sekali), mas arsiteknya bilang, “Inilah rumah tanpa pintu, hehehe.” Betul lho! Rumahnya ga ada pintu sama sekali, hanya pakai gorden sebagai sekat untuk masing-masing fungsi ruang. Ruang makan (yang juga sekaligus ruang tamu), bergabung dengan ruang televisi juga dapur. 

“Ya, gimana ya, udah terbiasa dengan (rumah) Jepang, sih” ujar pasangan arsitek yang memang sempat tinggal delapan tahun di Jepang (menurut info dari teman) untuk studi dan bekerja. Perabotan, alat makan dan memasak, ruang, bahkan pakaian yang ada di rumah itu begitu fungsional. Tak ada yang tak berguna. Efektif, kata kerennya. Jepang banget deh pokoknya.

Apakah cukup? “Ya, cukuplah. Semuanya cukup.” kata mas arsitek yang juga memelihara beberapa kucing di rumah ini sambil terkekeh. Saya dan bos berpandangan. “Kalau nanti anak-anak udah besar, gimanaaa?” tanya bos. Saya langsung menimpali, “Suruh merantau, Mas.” yang disambut gelak tawa serumah.

Cukup. Efektif. Hidup memang harus cukup dan efektif. Kalau tidak pernah merasa cukup, kelak tumbuhlah bibit-bibit rakus. Kalau tidak efektif, hanya jadi sia-sia dan mubazir. Ketika matahari akan kembali ke peraduan, dan udara Bandung yang sejuk-sejuk nikmat setelah hujan itu membuat malas beranjak, kami disuguhi ocha—teh hijau khas Jepang oleh empunya rumah. Sembari menunggu azan Magrib selesai, kami berempat (saya, bos dan pasangan arsitek yang baik hati tersebut) duduk di ruang makannya yang mungil menyesap ocha masing-masing dan mengobrol sambil tertawa haha hihi. Begitu akrab, begitu hangat. Ini juga mungkin enaknya punya rumah mungil: hubungan antar anggota keluarga jadi begitu dekat. Harta yang tak ternilai harganya.    

kali ini motret di salah satu kawasan yang (harusnya) sejuk—saat saya ke sana kebetulan lagi panas. pertama lihat rumah ini langsung jatuh hati. tapi foto rumahnya tidak bisa saya upload, nanti dimarahin bos. foto-foto di blog ini saya potret pakai kamera hape yang sudah butut, hehe.

Any woman who is gossiping to you about someone else cannot be trusted to not gossip about you when you aren’t there.

This month, two publications that I involved in are out! ARCHINESIA Volume 3 and Monograph of Airmas Asri. Here I give you glimpse of the outlook, so you can easily find them in the bookstore :) Support Indonesian architecture publication!

siapakah kamu? pengikut arus utama atau lentera jiwa? | Doktrin @kdri - Lentera Jiwa (by hellomotion)